PASURUAN, TALIGAMA.ORG— “Permintaanku beribu-ribu, tetapi sujudku terburu-buru.” Ungkapan reflektif tersebut disampaikan H. Rifa’i, legislator Kota Pasuruan, kepada wartawan, Minggu (25/10/2026). Pesan ini mengajak generasi muda menimbang kembali keseimbangan antara ambisi meraih kesuksesan dan kesungguhan memperbaiki diri.
Dalam perspektif Islam, ibadah tidak semestinya berhenti pada ritual, tetapi juga tercermin dalam kejujuran, akhlak, tanggung jawab, dan kesediaan menjaga amanah. Al-Qur’an, Surah Al-‘Ankabut ayat 45, mengingatkan bahwa salat mencegah perbuatan keji dan mungkar.
Kesuksesan sejati bukan hanya tentang pencapaian, melainkan juga tentang cara mencapainya. Kecerdasan, kekayaan, dan jabatan akan lebih bermakna ketika disertai integritas serta kepedulian terhadap sesama.
Refleksi ini bukan ajakan menghakimi keimanan seseorang. Kritik harus bertumpu pada perilaku yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan prasangka terhadap isi hati. Sebab, memperbaiki diri jauh lebih bermakna daripada merasa paling benar dalam menilai orang lain.
Pada akhirnya, generasi muda membutuhkan lebih dari sekadar kecakapan untuk bersaing. Mereka juga membutuhkan karakter untuk menjaga prinsip, keberanian untuk bersikap jujur, dan kepedulian untuk memberi manfaat.
Ibadah menguatkan kesadaran, akhlak mencerminkan perilaku, dan integritas membuktikan nilai diri melalui tindakan.
Penulis: Rachmat
Editor: Red/Aa’






